Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Pancasila sebagai Ideologi Terbuka


Patung Pancasila besar yang jadi lambang cinta Indonesia dan Pancasila di Gereja Katedral Jakarta

Ideologi terbuka adalah ideologi yang mampu mengikuti perkembangan zaman dan bersifat dinamis.

Di mana nilai-nilai dasar Pancasila dapat dikembangkan sesuai dengan kehidupan bangsa Indonesia dan tuntutan perkembangan zaman.

Dilansir situs resmi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), pada hakikatnya Pancasila telah di bentuk melalui proses yang cukup panjang oleh para pendiri bangsa. Pancasila sebagai ideologi dinamis yang mencerminkan keterbukaan pemikiran yang mampu menerima segala iklim perubahan yang terjadi. Ini agar mampu menerima segala iklim perubahan yang terjadi dan mampu melaksanakan nilai-nilai Pancasila yang luhur secara mendasar.

Dalam buku Pendidikan Kewarnegaraan (2008) karya Aim Abdulkarim, fungsi Pancasila untuk memberikan orientasi ke depan telah menuntut bangsa Indonesia untuk menyadari situasi yang sedang dihadapinya. Kemajuan ilmu pengetahuan, kecanggihan teknologi, dan sarana komunikasi yang semakin modern membuat dunia semakin kecil dan menguatnya interdependensi di kalangan bangsa-bangsa. Hal ini berati bahwa pembangunan nasional tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor dalam negeri. Tapi juga dipengaruhi oleh faktor luar negeri. Untuk menjawab tantangan tersebut, maka Pancasila perlu tampil sebagai ideologi terbuka. Karena ketertutupan hanya membawa pada kemandegan.

Keterbukaan bukan berati mengubah nilai-nilai dasar Pancasila, tapi mengeksplisitkan wawasan secara lebih konkrit. sehingga memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah baru. Dikutip situs Kementerian Pendidikan dan Kemudayaan (Kemendikbud), Pancasila sebagai ideologi terbuka sudah ada sejak pemerintahan Presiden Suharto.

Secara tersirat menunjukkan sifat sebagai ideoligi terbuka jika dikaji dari semangat pada pendiri bangsa sebagaimana dirumuskan dalam UUD 1945 terutama pada penjelasan UUD 1945. Ideologi merupakan tuntutan zaman. Sehingga dapat berfungsi sesuai dengan permasalahan yang timbul. Karena kekuatan ideologi pada prinsip tergantung pada kualitas.

Dimensi Pancasila sebagai ideologi terbuka 
Ada beberapa dimensi yang menjadikan Pancasila sebagai ideologi terbuka, yakni: 

  • Dimensi realitas 
Pada dimensi realitas, di mana nilai-nilai dasar yang terkandung dalam ideologi secara riil berakar dan hidup dalam masyarakat.
  • Dimensi idealisme 
Dimensi idealisme adalah ideologi yang memberikan harapan tentang masa depan yang lebih baik. 
  • Dimensi fleksibilitas 
Dimensi fleksibilitas atau disebut dimensi pengembangan adalah ideologi yang memiliki keluwesan dan memungkinkan pengembangan pemikiran.


Pancasil sebagai ideologi terbuka menjadi sarana untuk memecahkan permasalahan bangsa. Faktor rakyat dan bangsa sangat menentukan dalam keberhasilan tersebut.

Faktot Pancasila sebagai ideologi terbuka
Ada beberapa faktor atau gagasan yang mendorong Pancasila sebagai ideologi terbuka, yakni:

  • Perubahan dan perkembangan masyarakat yang cepat 

Pada faktor tersebut dampak dari berkembangnya pembangunan nasional secara pesat. Sehingga problem yang datang tidak senantiasa dapat dijawab secara ideologi sesuai dengan pemikiran-pemikiran ideologi sebelumnya. Contohnya, adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tidak memungkinkan suatu negara menutup diri dari pasar, terjadi pergeseran peran negara. 


  • Runtuhnya ideologi tertutup Marxisme-Leninisme atau Komunisme

 Pada abad ke-21 terjadi perubahan besar dengan tumbangnya idelogi komunis. Karena komunisme telah memposisikan sebagai ideologi tertutup. Ideologi komunisme merupakan ideologi yang merasa sudah mempunyai seluruh jawaban terhadap kehidupan ini. Sehingga yang perlu dilakukan dengan melaksanakan secara dogmatik.

  • Praktek ideologi tertutup di masa lalu 

Dalam sejarah politik Indonesia saat dipengaruhi komunisme sangat besar dalam segala sendi kehidupan masyarakat, berbangsa,dan bernagara. Di mana ideologi yang bersifat tertutup telah memengaruhi Pancasila. Dalam pelaksanaannya pernah merosot menjadi semacam dogma yang kaku. 


  • Penempatan Pancasila sebagai asas tunggal 

Ketika negara menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya asas membuat kualifikasi dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tersandera. Karena terdapat kawasan kehidupan yang bersifat otonom secara langsung mengacu pada nilai Pancasil, seperti nilai-nilai religi. Maka menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara tidak tepat. Sehingga MPR pada 1999 mencabut istilah Pancasila sebagai satu-satunya asas. Kemudian mengembalikan fungsi utama Pancasila sebagai dasar negara.


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pancasila sebagai Ideologi Terbuka", https://www.kompas.com/skola/read/2020/03/11/170000469/pancasila-sebagai-ideologi-terbuka?page=3.
Penulis : Ari Welianto
Editor : Ari Welianto

Komentar